Setahun Empat Kali Panen
//Tanam Padi Gunakan Media Polybag
MUBA, SRIPO—Dalam beberapa tahun terakhir, tren urban farming kian diminati oleh masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Konsep memindahkan pertanian konvensional menjadi pertanian perkotaan ini rupanya tak berlaku bagi tumbuhan hidroponik seperti sawi, bayam dan sebagainya. Melainkan tanaman pokok seperti padi pun bisa dibudidayakan di lahan terbatas tanpa medium tanah.
Ide kreatif tersebut dituangkan oleh Hari Agus Wibowo, petani asal Muba yang menanam padi lewat polybag dan bahan sederhana yang mudah didapat. Lewat cara ini, menanam padi cukup menggunakan polybag yang di isi dengan daun-daunan jenis apa saja mulai dari daun karet, daun kelapa sawit dan jenis daun lainnya.
"Prosesnya mudah, daun tersebut dicacah halus hingga berukuran 0,5 cm, kemudian dicampur dengan arang. Untuk arangnya bebas dari apa saja, bisa arang kayu atau arang sisa tatal sisa gesek. Bahan ini kemudian dimasukan ke dalam polybag dengan perbandingan satu banding satu," jelasnya.
Setelah diisi daun-daunan dan arang, barulah bisa dimasukan benih padi. Maka itu proses penyemaian langsung di polyback tanpa penyemaian di luar.
"Polybag yang digunakan jenis atau ukuran ketinggian sekitar 50 cm, untuk kurang diameternya bisa ukuran berapa saja. Polybag itu kita susun keliling seluas 4 meter. Sedangkan dari masa tanam benih sampai panen sekitar 3 bulan. Setelah 3 bulan, bisa langsung dipanen," ungkapnya.
Sedangkan keunggulan lain dari proses tanam metode tersebut, setelah panen padi akan kembali tumbuh tanpa dilakukan penyemaian ulang. Artinya bisa sampai 4 kali panen dalam setahun.
"Berbeda dengan padi di sawah yang harus ditanam ulang. Padi di sawah tidak bisa tumbuh lagi tanpa disemai karena kondisinya terlalu padat," terangnya.
Atas hasil karyanya ini, dirinya langsung mendapat apresiasi dari Pemkab Muba untuk dikembangkan di daerah-daerah lainnya. Karena inovasi ini merupakan terobosan baru dan pertama kalinya di dunia.
"Awal mula munculnya ide menanam padi tanpa media tanah ini adalah ketika saya melihat banyak masyarakat yang tidak memiliki lahan yang luas, serta masyarakat yang tidak mampu mengolah lahan mereka," ungkapnya.
Dengan demikian metode ini bisa menjadi solusi bagi masyarakat yang memiliki lahan sempit termasuk masyarakat di kawasan perkotaan. Selain tidak membutuhkan lahan yang luas, lahan yang ada pun tidak perlu diolah, tidak perlu dicangkul dan sebagainya.
"Mengenai perawatannya pun tidaklah sulit, bahkan nyaris tidak ada perawatan sama sekali. Kecuali hama tanaman seperti ayam dan burung. Untuk hama lain seperti tikus dan sejenis nya kami menggunakan pestisida alami yakni asap cair," ujarnya.
Hari mengaku, gagasan itu juga muncul ketika melihat kondisi Pandemi Covid-19 yang mana masyarakat tidak banyak beraktivitas diluar rumah termasuk di sawah. Namun bagaimana caranya tetap menghasilkan uang.
"Alhamdulillah metode seperti ini berhasil dan juga bisa dilakukan masyarakat perkotaan atau Urban Farming. Inovasi ini juga menjadi percontohan bagi masyarakat lainnya," tegasnya. (dho)





0 Response to "Setahun Empat Kali Panen"
Post a Comment